Gundah Di Balik Meriahnya Hari Batik Nasional

Gundah Di Balik Meriahnya Hari Batik Nasional

Di Balik Meriahnya Hari Batik Nasional
Belakangan, setiap memasuki awal Oktober, seluruh sudut Tanah Air baik di dunia nyata maupun maya, banyak berseliweran berbagai hal serba batik. Tak jarang, bulan ke sepuluh Masehi ini pun dijuluki sebagai bulan batik. Kenapa? Tentu saja terkait dengan peringatan Hari Batik Nasional yang telah ditetapkan pemerintah sejak 2 Oktober 2009 lalu.

Batik diakui menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia. Ini kian lekat sejak UNESCO mematenkan sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan nonbendawi. Pemerintah juga semakin gencar mengampanyekan hari batik. Teranyar adalah pagelaran Istana Berbatik di kawasan Istana Merdeka, Jakarta, yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo pada hari Minggu (1/10) kemarin.

Rupanya, perayaan hari batik ini juga memberikan angin segar bagi penjual kain dan baju batik. Bagaimana tidak, batik yang memiliki beragam motif, tepatnya sekitar 5.849 motif dari seluruh Indonesia berdasarkan penelitian Bandung Fe Institute dan Sobat Budaya pada 2015 ini, bisa menjadi pilihan busana yang cocok dikenakan pada momen suka cita hingga duka cita sekalipun. Kecocokan dengan beragam agenda itu tergantung filosofi motif yang dipilih.

Tati, salah satu pedagang di sentra perbelanjaan Pusat Grosir Cililitan (PGC) mengungkapkan, baju batik dagangannya mendadak laris manis menjelang adanya momen Hari Batik Nasional. Wanita 34 tahun ini bercerita, sejak menempati kios di lokasi tersebut pada tahun lalu, penjualannya terbilang cukup sepi.

Ditambah adanya fenomena maraknya platform jual beli online secara langsung (live selling) beberapa waktu lalu, makin membuat dirinya sulit memperoleh pelanggan.

Pada hari biasa, kiosnya baru melayani pelanggan pertama umumnya sekitar pukul 15.00-18.00 WIB. Sementara itu, kios beroperasi mulai pukul 10.00-19.30 WIB. Namun, menjelang Hari Batik Nasional, dagangannya gencar terjual hingga dua kali lipat.

“Pembeli batiknya kemarin banyak pada dateng ke sini. Penjualan kita naik dua kali lipat bahkan lebih dari momen Lebaran. Pokoknya penjualan bener-bener meloncat gara-gara ada hari batik itu. Kita aja tutup sampe jam 21.00 WIB malem,” ujar Tati kepada Validnews, Selasa (3/10).

Tati menjajakkan beragam model baju batik, seperti tunik, outer, kemeja, dress, hingga rok. Beragam jenis pakaian itu dibanderol kisaran Rp150-Rp250 ribu per buah. Adapun batik yang disediakan merupakan batik printing buatan Solo dan Pekalongan.

“Di sini cuma jual printing aja, karena kalau batik tulis, harganya gak masuk di sini. Terlalu mahal, gak akan ada yang beli,” katanya.

Di Balik Meriahnya Hari Batik Nasional

Hal serupa juga dirasakan oleh perusahaan penyedia peralatan dan perlengkapan membatik. Salah satunya di Jabahade. Perusahaan perlengkapan Online Roulette batik asal Sumedang milik Akbar H Suryadireja ini mencatatkan kenaikan penjualan peralatan membatik, termasuk malam alias lilin, seiring permintaan akan batik.

Jabahade ini menyediakan beragam peralatan dan perlengkapan bagi pengrajin batik, seperti pewarna, canting batik, kain katun batik, lilin atau malam batik tulis, kuas lukis batik, pola batik tulis, dan masih banyak lagi.

“Iya beberapa tahun terakhir penjualan malam kami meningkat,” kata Akbar saat berbincang dengan Validnews, Rabu (4/10).

Toko perlengkapan batik lainnya, Bima Kunting yang berada di Surakarta, Jawa Tengah, berkondisi sama. Aditya, salah satu pengelola Bima Kunting, mengungkapkan adanya Hari Batik Nasional turut mengerek naik omzet, meski tidak menyebutkan berapa besar keuntungan.

Hanya saja, salah satu yang penjualannya menonjol adalah kain. Dia menyebutkan permintaan kain itu tak hanya untuk pembuatan baik batik tulis dan cap, namun juga untuk pembuatan printing atau kain yang disablon menggunakan motif batik.

Toko Bima Kunting menyediakan berbagai peralatan membatik. Ada aneka kain impor dari Jepang. Alasan Adit, di Indonesia belum bisa menghasilkan benang yang sesuai, sehingga memerlukan supplier dari luar negeri.

Lalu ada canting, malam atau lilin, hingga peralatan lainnya seperti loyang untuk mencairkan malam pada proses pembuatan batik cap. Pemasarannya pun menyasar kota di sekitar Surakarta, Pekalongan, hingga Sumatra.

Ketua Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya juga menilai, adanya perayaan Hari Batik Nasional yang makin masif, ikut mendorong pertumbuhan permintaan batik yang signifikan.

Berdasarkan pengamatannya, industri batik dan komponennya cenderung stabil.

“Dalam tiga bulan terakhir ini sangat bagus kondisinya. Karena biasanya itu bukan harga naik tapi malah berganti harga,” tutur Komarudin kepada Validnews, Rabu (4/10).

Dia menguraikan, beragam kegiatan digelar secara nasional dalam perhelatan Hari Batik Nasional sebagai promosi besar-besaran oleh pemerintah. Antara lain seperti Istana Berbatik, Membatik Bersama Presiden di Museum Batik Nasional di TMII yang menghadirkan 125 perajin batik dari seluruh Indonesia, pencatatan rekor MURI untuk jumlah hias batik terbanyak, hingga sejumlah daerah pun menggelar pelatihan-pelatihan batik.

“Ini menunjukkan geliat industri batik di Indonesia sangat tinggi. Setahun ini saja, lebih dari lima lokasi yang saya datangi di daerah menggelar pelatihan-pelatihan membatik sebelum berlangsungnya Hari Batik Nasional,” ucapnya.

Tulisan ini dipublikasikan di Slot. Tandai permalink.